21 November 2018

NAPAK TILAS KE YOGYA (Bagian 7 - Akhirnya...)

Di hari kedua perjalanan di sekitar Yogyakarta ini kami awali dengan mengikuti Tour Merapi. Pengalaman tersebut benar-benar mengasyikkan! (Ikuti tulisan tentang tour ini di Bagian 3, Bagian 4, Bagian 5, dan Bagian 6).

Karena perut sudah sangat keroncongan setelah 4 jam keliling-keliling ikut tour, kami sepakat mengisinya di Rumah Makan Gudeg Bu Hj. Ahmad di Jalan Kaliurang (tepatnya Jl Agro), tidak terlalu jauh dari hotel tempat kami menginap.  Aaahhh... lupa berfoto-foto 😔, saking sibuknya melahap gudeg dan semua asesorinya!
Rasanya lumayan enak, terutama bagi yang tidak suka pada rasa yang terlalu manis.

Kemudian, kami kembali ke Artotel untuk berkemas dan memasukkan semua bawaan kami ke dalam bis untuk melanjutkan perjalanan ke arah Magelang, desa Karangrejo, untuk menikmati suasana dan pemandangan Candi Borobudur.


Kami menyempatkan mengunjungi rumah kediaman salah satu sepupu kami, Mas Djoko H. Reksoprodjo, yang tinggal bersama keluarganya tidak jauh dari Artotel.




Untuk dijalan, Mbak Widya membawakan makanan favorit kami semua... yaitu pancake durian!




Nah, sebenarnya acara napak tilas keluarga di sekitar Yogya sudah selesai. Acara berikutnya lebih ke santai-santai, jalan-jalan, selfi-selfi, ngobrol-ngobrol... !

Kami pun siap-siap melanjutkan perjalanan ke Karangrejo! 
Yak! Semua masuk bis... dan tidurrrrr.....!! 😴😴😴


NAPAK TILAS KE YOGYA (Bagian 6 - Bungker Kaliadem)

Catatan ini masih bagian dari catatan perjalanan kami ikut Tour Merapi. Destinasi berikutnya adalah Bunker Kaliadem.
Sebelumnya dapat diikuti catatan kami di Bagian 3, Bagian 4, dan Bagian 5.


Bunker ini sudah ada sejak era kolonial. Tempat ini dibangun untuk berlindung dari ganasnya Gunung Merapi. Kenyataannya, tempat ini tidak berfungsi sebagaimana mestinya. 

Bahkan saat peristiwa erupsi di tahun 2006, dua relawan yang berlindung di dalam bunker ini justru tewas di dalamnya. 


Tempat ini menyimpan cukup banyak jejak ganasnya Gunung Merapi. Di Bunker Kaliadem terdapat pintu utama yang terbuat dari baja setebal 15 cm.  Ruangan bunker masih memiliki sisa-sisa material Merapi dan bagian atas yang dilapisi batu serta pasir vulkanis.

Merapi Tour yang berlangsung selama 4 jam ini cukup memberikan pemahaman kepada kami akan kedahsyatan dampak meletusnya Gunung Merapi di tahun 2006 dan 2010 yang telah meluluh lantakkan begitu banyak kekayaan alam karunia Tuhan.
Tour Merapi dikelola oleh beberapa operator tour, tetapi semuanya bernaung di bawah asosiasi yang sama. Semua mobil yang digunakan adalah jeep dengan variasi jenis dan mereknya. 
Waktu kami mengikuti Tour Merapi ini cuacanya cukup mendukung. Kadang-kadang panas, tetapi tidak terlalu terik, dan walaupun musim hujan, kami tidak sempat kehujanan.
Untuk menambah sensasi, kami diajak melintasi sungai yang sempat dilalui lava saat Gunung Merapi meletus. Pengendara jeep menanyakan sebelumnya "Mau basah, kering, atau semi-basah?" Ya karena kami tidak membawa baju ganti, jawaban kami pastilah "kering"!


NAPAK TILAS KE YOGYA (Bagian 5 - Merapi Tour: Museum Mbah Marijan)

Perjalanan hari kedua (26 Oktober 2018) kami lanjutkan ke Museum Mbah Marijan. Sebelumnya kami telah mengunjungi Museum Omahku Memoriku dan lokasi Batu Alien (Baca: Bagian 3 dan Bagian 4).

Museum Mbah Marijan terletak di Dusun Kinahrejo, Kecamatan Umbulharjo, Kabupaten Sleman

Maaf... ini bukan Mbah Marijan yaa...
Dikutip dari pemberitaan Kompas.com (27/10/2010), Mbah Maridjan lahir pada 1927 di Dukuh Kinahrejo. Mbah Marijan diangkat menjadi Abdi Dalem Keraton Kesultanan Yogyakarta oleh Sultan Hamengku Buwono XI dengan nama baru Mas Penewu Suraksohargo. Selain itu, Mbah Maridjan juga diberi tanggung jawab sebagai wakil juru kunci dengan pangkat Mantri Juru Kunci, mendampingi ayahnya yang menjabat sebagai juru kunci Gunung Merapi.

Setelah ayahnya meninggal, Mbah Maridjan diangkat menjadi juru kunci Gunung Merapi pada 1982. Sejak saat itu, Mbah Maridjan dan Merapi seakan tak bisa dipisahkan.

Di lokasi ini terdapat makam Mbah Maridjan dan Masjid Mbah Maridjan yang sudah direnovasi.









Juga ada koleksi barang-barang yang terkena lahar, motor warga yang terkena lahar, gerabah, foto-foto bencana Merapi 2010, sejarah Merapi,






dan mobil evakuasi yang dulu hendak menjemput Mbah Maridjan.









Ami yang tinggal di Canberra, Australia, sempat membeli mainan tradisional untuk cucunya. Karena khawatir tidak dapat menunjukkan cara memainkannya kepada sang cucu, dia minta penjualnya mendemonstrasikan caranya dan merekamnya.
Nah... gampangkan? Ayo, sayang cucu... sayang keponakan... sayang tetangga...!

NAPAK TILAS KE YOGYA (Bagian 4 - Merapi Tour: Batu Alien)

Hari ini, 26 Oktober 2018, adalah hari kedua perjalanan kami keliling sekitar kota leluhur kami, Yogyakarta. Di pagi hari kami ikut Tour Merapi ke sebuah rumah museum "Omahku Memoriku" (Lihat Bagian 3).

Setelah sempat berisitirahat, kami kembali mengendarai jeep terbuka dan menuju ke sebuah tempat yang terkenal dengan nama "Batu Alien". 😲

Nama tersebut diambil dari sebuah batu besar yang terlempar dari puncak Gunung Merapi saat meletus di tahun 2010. Karena bentuknya yang unik dan teronggok dengan santainya, ia banyak dikunjungi orang. Sosok batu tersebut menyerupai bentuk wajah orang.

Memang kalau diperhatikan dengan saksama, batu besar tersebut memiliki tekstur wajah, lengkap dengan kedua mata, hidung, mulut dan telinga. Wajahnya menghadap ke atas. Yaaahhh... kalau disebut alien, sebenarnya enggak juga. Mungkin karena berasal dari "dalam bumi" (lawannya "luar angkasa"), maka diasosiasikan dengan "saudaranya alien". 😛😜

Lalu pada tahun 2011 mulai didirikan kawasan wisata yang bernama Batu Alien. Kawasan wisata ini terletak di Dusun Jambu, Kepuharjo ,Cangkringan Sleman.

Para pengunjung dapat mengambil beberapa sudut cantik untuk berfoto-foto.







Sebelum lanjut ke destinasi berikutnya, yaitu Museum Mbah Marijan,
kami menyempatkan berfoto-foto ria dulu...😀
Kemana kita ??

NAPAK TILAS KE YOGYA (Bagian 3 - Tour Merapi: Omahku Memoriku)

Ini adalah catatan perjalanan Napak Tilas Keluarga Besar Reksoprodjo hari ke-2. (Lihat Bagian 1 dan Bagian 2 - untuk perjalanan hari pertama)


Hari ke-2: 26 Oktober 2018

Pukul 7.00 pagi beberapa dari rombongan menyempatkan sarapan pagi di ruang makan hotel.

Wajah-wajah cerah tampak menikmati hidangan yang juga terlihat cerah menggoda...






Sambil menunggu semua kumpul... (ini proses yang seringkali memakan waktu lebih lama dibandingkan acaranya sendiri 😀), para fotografer menggunakan waktu untuk mengambil gambar model ternama di lobby hotel.















Akhirnya... semua sudah kumpul!!
Tujuan berikutnya adalah lereng Merapi. Dari 13 orang, hanya 8 yang akan mengikuti Tour Merapi karena yang lain sudah pernah ikut dan ada beberapa urusan yang harus dikerjakan. Biar mudah dikenali, kami semua mengenakan baju berwarna oranye yang sudah disiapkan panitia kecil (Makasih ya, Eri for organizing these cool-coloured polo shirts!). Ini untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Siapa tahu ada yang jalan-jalan sendiri keluar dari rombongan dan nyasar...! 😬

Bis menuju Kaliurang, lokasi operator tour yang sudah dipesan dan harga juga sudah dinego oleh ketua panitia kecil kami. Sesampai di TKP, kami disambut oleh para pemandu wisata yang menjelaskan rute dan beberapa aturan serta prosedur keselamatan yang harus kami patuhi.
Tour yang akan kami ikuti adalah semacam napak tilas juga tentang sejarah dan cerita-cerita sedih di balik meletusnya Gunung Merapi 2006 dan 2010 lalu.  Kami mengendarai 3 jeep terbuka, masing-masing dipandu oleh pengendara sekaligus pewarta sejarah dan ceritanya. 
Pemandangan ke arah lereng Gunung Merapi sangat indah, sepanjang jalan berliku yang menanjak, dengan pohon-pohon hijau dan rindang di sekitarnya...

House of Memory

Tempat pertama yang kami kunjungi ini mirip seperti museum. Namanya "Omahku Memoriku" atau "HOuse of Memory". Di sini kami dapat melihat beberapa barang yang sudah berubah bentuk akibat terkena lava panas dan abu vulkanik.
Konon rumah tersebut adalah milik penduduk setempat dan awalnya adalah sebuah rumah yang asri dengan halaman luas dan beberapa ternak peliharaan.
Namun sekarang, semua tinggal kenangan... 
Berbagai kejadian bersejarah sewaktu proses evakuasi dan penyelamatan korban bencana, maupun dampak dari erupsi diabadikan dalam foto-foto yang dipajang di dinding rumah tersebut.

Setelah beristirahat sejenak menikmati minuman hangat, kami melanjutkan perjalanan ke Batu Alien. Apa itu? Baca Bagian 4 yaaa... ! 


20 November 2018

NAPAK TILAS KE YOGYA (Bag 1 - Cemorojajar)

Acara napak tilas ke kota Yogyakarta bareng keluarga besar ini sesungguhnya kami lakukan di bulan Oktober 2018 yang lalu. Namun, belum sempat diunggah di blog ini. 🙏

Baiklah... agar momen langka ini tidak hilang dari ingatan kami, keluarga besar Reksoprodjo, dan dapat dilihat oleh anak cucu kami, saya memutuskan untuk menuliskan perjalanan kami di sekitar Yogyakarta tersebut.

Sebenarnya jumlah anggota keluarga besar Reksoprodjo ini, menurut data di Buku Keluarga Besar, lebih dari 150 orang. Namun, untuk dapat mengumpulkan sekian banyak orang, bahkan pada acara tahunan seperti Lebaran, susahnya bukan main. Bukan saja kami tinggal di kota-kota yang terpencar, tetapi juga biasanya tiap-tiap sub keluarga sudah memiliki acara sendiri. Apalagi acara napak tilas ke Yogya ini direncanakan untuk 3 hari.
Hmmm... bukan waktu yang lama sebenarnya, tetapi hampir semua anggota adalah orang-orang super sibuk yang memiliki kegiatan luar biasa! 😊

Jadi, walau sudah dijadwalkan jauh-jauh hari, akhirnya yang dapat ikut hanya 13 orang! 😱

 -----   Baru 12...  1 lagi menyusul!!   ------ 
Itu pun dengan jadwal kedatangan dan transportasi yang berbeda-beda. Pokoknya.... kami sepakat untuk bertemu di Artotel Yogya sesudah makan siang. Mbuh... carane piye! 

Rombongan kami, Ami-Isti-Yanti Sudjiman, memilih berkendara mobil dari Jakarta dan menginap semalam di Semarang dulu, baru di tanggal 25 Oktober tiba di TKP. Kami memang berniat jalan-jalan bertiga karena sudah lama tidak berkumpul dan bermaksud mampir ke Kutoarjo dalam perjalanan pulang ke Jakarta.

Hari 1 - 25 Oktober 2018:

Setelah cipika-cipiki... memasukkan barang-barang ke kamar masing-masing, sholat dan istirahat sebentar, kami semua kumpul di lobby hotel dan masuk ke bis kecil yang sudah disiapkan panitia (terima kasih, Djoko H. Reksoprodjo...🙏).

Rumah di Jalan Cemorojajar no 8
Kami menuju ke Jalan Cemorojajar. Rumah no 8 di ujung jalan tersebut tampak rapat tertutup, tidak telihat berpenghuni. Rumah itu adalah rumah kediaman Eyang Rekso dulu, tempat kami dulu sering bermain dan berkumpul bersama, paling tidak saat hari raya Idul Fitri.
Karena ragu untuk memasuki pekarangannya, kami memutuskan untuk singgah di Hotel Maerakatja di jalan yang sama.

Mengapa hotel ini begitu penting?
Karena dulu kami sering menginap di hotel ini. Berhubung Eyang Rekso memiliki 12 putra-putri, maka setiap kali anak cucunya berkumpul, sudah barang tentu rumah beliau tidak dapat menampung semuanya. Jadi, Hotel Maerakatja ini berfungsi sebagai rumah singgah kami.






Banyak kenangan di hotel ini, karena kami cucu-cucu sering berjalan kaki (atau balapan lari...😃) dari hotel ke rumah Eyang.





Kami sempat ngupi-ngupi cantik di sebuah coffee shop yang terletak persis di seberang hotel, yaitu R&B Grill Steak.
Kebetulan coffee shop tersebut milik teman Yanti, jadi kami bisa santai, cekakakan, sholat ashar, dan... dapat diskon besar!! 👌


Setelah bertukar cerita-cerita nostalgia masa kecil, kami memutuskan untuk kembali ke rumah di Jalan Cemorojajar 8. Ternyata memang tidak ada penghuninya. Namun, kami dapat masuk ke pekarangannya dan melihat-lihat kondisi rumahnya dari luar. Sayang sekali sudah tidak terpelihara. Bentuk rumahnya sudah berubah, tetapi masih terlihat seperti rumah lama. Halaman rumahnya luas, tetapi sangat tidak terawat dan tampak ada beberapa gerobak dagangan makanan tergeletak di sana sini. Entah siapa pemilik rumah tersebut sekarang.

Kami berfoto-foto ria di depan rumah penuh kenangan tersebut.

Di depan rumah Jalan Cemorojajar no 8, Yogyakarta
Mengenang masa-masa kecil...

Masih seperti anak-anak kecil... 👦👧
Kemudian, kami melanjutkan perjalanan ke makam (pesarean) Eyang Kakung dan Eyang Putri Reksoprodjo di Blunyah Gede, yang jaraknya hanya sekitar 1,5 km dari rumah Cemorojajar.

Eyang kakung kami wafat pada tahun 1958, sehingga kebanyakan cucunya tidak sempat mengenal beliau. Namun, dulu ketika kami sedang berlibur ke Yogya dan menginap di rumah Cemorojajar, kami sering diajak naik becak bersama almarhumah Eyang Putri untuk "nyekar" ke makam Eyang Kakung.

Situasi sekitar kompleks pemakaman sudah sangat berbeda. Dulu jalan menuju ke pemakaman tidak terlalu besar dan sepi kendaraan. Sekarang, jalan itu sudah menjadi jalan raya dan penuh dengan bangunan dan toko.

Di depan kompleks pemakaman ada sebuah masjid yang dibangun atas prakarsa almarhumah Eyang Putri. Namanya Masjid Al Faalah.



Di belakang Masjid Al Falaah inilah lokasi kompleks pemakaman di mana Eyang Kakung dan Eyang Putri Reksoprodjo dimakamkan. Eyang putri kami wafat di tahun 1981.

Makam Eyang Kakung Soekirjo dan Eyang Putri Koespirah Reksoprodjo - Blunyah Gede








Dari pemakaman, kami kembali ke hotel untuk beristirahat dan bersiap lagi untuk acara malam harinya...


Tunggu laporan pandangan mata berikutnya... 😎


NAPAK TILAS KE YOGYA (Bagian 2 - Kuliner Malam)


Di hari pertama, tanggal 25 Oktober 2018 sore, setelah kumpul di Artotel Jalan Kaliurang, kami melakukan napak tilas ke daerah Jetis dan Blunyah, yaitu sekitar kediaman Eyang Reksoprodjo dan kompleks pemakaman beliau berdua (baca Bagian 1 - Napak Tilas).

Dalam perjalanan kembali ke hotel untuk beristirahat, kami mampir ke sebuah toko batik. Rencananya sih sebentar saja… nyatanya yaaa… hampir 1 jam kami di sana. Yang sayang anak, sayang suami, sayang cucu…. 😍

Sebelum masuk ke kamar masing-masing, kami bersepakat untuk bertemu di lobby sekitar pukul 18.30. Tujuan utama adalah warung makan BakmiJowo Mbah Gito.


Akhirnya… sampailah kami di warung makan Bakmi Jowo Mbah Gito. Letaknya di Jalan Nyi Ageng Nis No. 9, Rejowinangun, Kotagede. Dari luar warung tersebut tampak kecil, redup, dan terkesan seperti gubug. Tetapi kami cukup heran dengan banyaknya mobil terparkir di sekitar warung… dan ternyata betul sekali! Begitu masuk kedalam, suasanya ramai sekali. 
Alhamdulillah kami sudah booking untuk 2 meja dan juga sudah mengirim pesanan kami via WA sebelumnya… karena biasanya cukup rempong nih urusan order-mengorder makanan dengan jumlah orang banyak! Juga menurut beritanya, di warung tersebut perlu waktu untuk menunggu pesanannya karena pesanan dimasak satu per satu. 

Walaupun kami sudah pesan makanan sebelum datang, tetap rasanya luaaammmaaa… banget.  Mungkin kami sudah lapaaarrr… banget juga!

Sambil menunggu, kami melihat-lihat sekeliling warung. Warungnya unik sekali. Bangunannya berlantai dua dan semua bahannya terbuat dari kayu dan dibiarkan dalam bentuk natural. Konon kayu-kayu tersebut diambil dari kandang sapi milik Mbah Gito. Dekorasi interiornya sangat kental nuansa Jawa, lengkap dengan pernak-perniknya. 

Dua arsitek kami, Ami dan Wiwiek, tentu saja sangat tertarik pada bangunan warung tersebut dan naik ke lantai atas untuk mengeksplorasi tempat tersebut. 
Tidak dinyana mereka disambut sendiri oleh Mbah Gito dan istrinya! Walaupun dikenal dengan sebutan “Mbah”, tetapi sosok Mbah Gito sama sekali tidak tampak sepuh seperti yang kami bayangkan. Beliau menjelaskan bahwa memang dulu mereka membuka warung bakminya di lokasi bekas kandang sapi di pedesaan. Akan tetapi, lokasi yang sekarang adalah lokasi baru dengan nuansa yang  dipertahankan seperti warungnya dulu. 



Hidangan di warung bakmi jowo Mbah Gito merupakan racikan khusus Mbah Gito dengan berbagai pilihan menu, seperti bakmi godog, bakmi goreng, nasi goreng, dan beberapa menu lainnya. 



Sebelum meninggalkan lokasi, kami sempat berfoto ria di depan pintu utama warung Mbah Gito. Memang nuansa tradisionalnya sangat kuat, sehingga membuat tempat ini menjadi tujuan wisata kuliner banyak wisatawan, domestik mapupun manca negara.



Berfoto kembar tiga... 😂😂😂


Tujuan kami berikutnya adalah Tempo Gelato di Jalan Kaliurang. Walau sudah malam dan mendekati waktu tutup toko, pengunjung masih tampak ramai memenuhi sebagian mejanya.

Kami sibuk memilih dari sekian banyak rasa dan topping yang tersedia. Bingung deh... semua ingin dicoba. Alhasil, masing-masing memilih rasa dan kombinasi yang berbeda dan kami saling bertukar mencicipi tiap rasa. 

Tempatnya cozy banget dengan dekorasi yang menarik untuk foto-foto. Terlihat banyak anak-anak muda yang berfoto dengan latar belakang dekorasi yang khas dan menarik. Sudah pasti mereka akan unggah di akun Instagram atau Facebooknya. 

Saya jadi ingat kelakuan anak saya yang sering pergi ke tempat-tempat nongkrong bersama teman-temannya, hanya memesan satu atau dua gelas minuman dengan sedotan buanyak. Yang penting foto bareng, mengunggahnya ke media sosial, tetapi tidak mau mengeluarkan biaya banyak, alias ngirit !!

Dengan perut kenyang dan muka-muka mengantuk, kami kembali ke hotel... 😴